Sinopsis Novel

———————————————-Summary Statement——————————————-

Judul                                     : “Wekoila”  (Anaway Inuanggino Sangia)

Band roll                              :  Jejak-Jejak Cinta Babad Tanah Tolaki

Kategori                               : Semi Fiksi

Pengarang                          : Ir.H. Yusran Taridala

Tahun Penulisan               : 2009

Volume                                 : 157 Halaman Kwarto (spasi 1,5)

Keterangan                        : Belum pernah dipublikasikan

—————————————— Pengantar Sinopsis ——————————————

Babad tanah Tolaki melanglang sejarah panjang di antara riwayat raja-raja pedalaman yang terkubur bersama kisah cinta, dendam, darah dan air mata yang membasahi bumi warisan To Lahianga di jazirah Tenggara pulau Sulawesi. Pusara para raja dan ksatria perang pun belum bisa diberi nama ketika Sri Ratu Mokole Wekoila diutus sangia I wawo lahuene untuk mendirikan kerajaan Konawe di atas jejak-jejak terakhir kerajaan Pandangguni, Wawolesea dan Besulutu yang telah berdiri sejak abad ke-IV  masehi.  Dan para sangia menjadi saksi atas perjalanan berdarah sri ratu Wekoila dalam menyatukan tanah Tolaki di bawah naungan pusaka abadi Kalosara.

Mengayuh zaman di paruh awal abad ke-11 masehi, Sri Ratu Wekoila yang bergelar ‘Putri Anaway Inuanggino Sangia itu, telah memancangkan tiang istana Laika Mbu’u di puncak gunung Olo-oloho untuk menulis kisah awal kerajaan Konawe di atas halaman terakhir riwayat perang saudara yang telah berlangsung selama tiga abad di tanah Tolaki. Sri Ratu Wekoila telah mengukir bukti keagungan cinta sejati dalam merilis puncak-puncak istana kerajaan yang berdiri di atas gemerincing senjata tombak karada, lembing kasai, parang ta’awu, keris leko pitu, sumpit beracun (osumbi) dan bambu sungga.

Mewarisi arti cinta suci dari mendiang suaminya – sri mokole Ramandalangi yang bergelar Langgai Moriana,  putra mokole Rundubeli di Padangguni yang lebih dikenal sebagai Totongano Wonua itu, sri Ratu Wekoila telah meletakkan dasar-dasar pemerintahan abadi di kerajaan Konawe, sebelum akhirnya ia menutup mata di tengah kisah cinta yang belum selesai. Tapi bumi titisan para sangia ini telah menyimpan kisah cinta Wekoila di atas lembaran sejarah panjang tanah Tolaki hingga tiang-tiang istana Kerajaan Konawe kembali berdiri di paruh awal abad ke-13.

Pusara Wekoila pun berkilau di atas riwayat pertalian darah biru raja-raja Sulawesi diantara kisah abadi Anak Aji di tanah Luwu, Larumbalangi di Mekongga (Tompotikka), Wakaaka di Wolio, Une Ne Labola di Wuna, mokole Niwite di Toburi/Lere (Moronene), Mata Silompoe di Bone dan Tobanuapon di Tanah Toraja.

———————————————Selayang Pandang———————————————

Bagian Pertama : Dendam  di Lembah Bukit

Pada bagian ini, penulis mencoba memaparkan setting situasi tiga kerajaan kuno orang Tolaki (Padangguni, Wawolesea dan Besulutu) yang terlilit dendam kusumat selama beratus tahun hingga terus-menerus dilanda perang saudara.  Setting situasi yang ditonjolkan pada bagian ini adalah fragmen-fragment peristiwa terpenting di kerajaan Padangguni sebagai angel utama dalam mengisahkan dan menggambarkan karakter tokoh-tokoh penting dalam novel ini, yakni mokole (raja) Rundubeli, mokole Ramandalangi dan sri mokole Wekoila di Padangguni, serta mokole Datu Sangga bergelar Aritisima di Wawolesea dan mokole Lolaki di Besulutu. Tokoh-tokoh tersebut diceritakan berada dalam kisah pertikaian berdarah di dalam lingkungan kerajaan pedalaman yang terletak di sebuah lembaga bukit (Abuki).

Paparan kisah pada bagian ini mengetengahkan sebab-sebab terjadinya pertikaian, riak-riak bentrokan berdarah, dan ramalan-ramalan tanah leluhur, termasuk ramalan akan datangnya seorang wanita cantik di tanah Padangguni yang menaiki tikar sorume dan memiliki senjata sakti berupa pilinan rotan melingkar bernama ‘Kalo’. Tokoh Wekoila belum ditonjolkan pada bagian ini, sebab penulis masih memfokuskan diri untuk menggambarkan setting situasi awal yang melatar-belakangi kedatangan putri cantik itu sebagai ratu adil yang kelak akan membantu kerajaan Padangguni menyelesaikan pertikaian berdarag yang telah berlangsung selama berabad-abad di tanah Tolaki. Tokoh utama yang ditonjolkan dalam bagian ini adalah mokole Rundubeli dan putranya, pangeran Ramandalangi.

Bagian Kedua : Ilalang Bersimbah Darah

Pada bagian ini diketengahkan kisah perang tanding tebuka di tengah padang ilalang Laroni’i antara pasukan Padangguni dengan pasukan Besulutu yang secara diam-diam berkomplot dengan pasukan Wawolesea. Konspirasi terselubung antara Besulutu dan Wawolesea itu telah menyebabkan pasukan Padangguni kalah. Alur cerita yang banyak dikisahkan pada bagian ini adalah gambaran peristiwa berdarah dan perkelahian antara para pendekar dan ksatria kerajaan Padangguni dan kerajaan Besulutu yang lalu dimenangkan oleh ksatria Besulutu setelah mendapat bala bantuan pasukan dari Wawolesea.  Tokoh yang ditonjolkan pada bagian ini adalah pangeran Ramandalangi serta mokole Lolaki dan pangeran Latambaga dari Besulutu. Pangeran Ramandalangi digambarkan sebagai ksatria perang yang sakti dan perkasa karena bersenjatakan talam persegi empat berbentuk siwole uwa. Namun, ia dan pasukannya akhirnya kalah karena penghianatan dua kerajaan seterunya, yakni Besulutu dan Wawolesea.

Bagian Ketiga : Cahaya Di Atas Pusara

Pada bagian ini dipaparkan kisah perjalanan sisa-sisa pasukan dan petinggi kerajaan Padangguni dalam persembunyian mereka di tengah hutan Lawali. Hidup dalam pengusian di antara semak belukar, pepohonan besar, lembah-lembah curam, kali-kali jernih, lereng-lereng bukit dan batu-batu berlumut, rombongan Padangguni itu luruh dalam kesedihan yang panjang bersama dendam kusumat yang terus mematri saat mengenang puing-puing istana kerajaan Padangguni hancur berkeping oleh pendudukan pasukan Besulutu dan Wawolesea. Kesedihan dan dendam kusumat itu bahkan kian menjadi-jadi setelah mokole Rundubeli akhirnya tewas dalam sebuah serangan mendadak pasukan Besulutu dan Wawolesea yang tiba-tiba memergoki mereka saat terlelap tidur dalam keheningan belantara.

Dalam situasi itulah, tokoh Wekoila yang digambarkan sebagai putri cantik untusan dewa, tiba-tiba muncul memberi seberkas sinar harapan kepada rombongan Padangguni yang tengah berderai air mata di depan pusara raja mereka, mokole Rundubeli.  Berbekal senjata sakti kalo yang telah lama dinantikan oleh pangeran Ramandalangi untuk melengkapi kelemahan senjata siwole uwa miliknya, Wekoila berhasil menghabisi pasukan Besulutu dan Wawolesea di tengah hutan Lawali. Wekoila lalu menggiring mereka untuk menempati tempat persembunyian yang lebih aman di hutan Watukuro. Sejak saat itulah, benih-benih cinta dihati Wekoila dan Ramandalangi mulai bersemi.  Namun, sayang sekali, sebelum bertemu dengan putri Wekoila, pangeran Ramandalangi telah terlanjur memberi harapan pada seorang wanita cantik bernama Anamia Ndopo, putri kandung mokole Datu Sangga – Raja Wawolesea, yang waktu itu telah membantu menyembuhkan ayahnya yang terserang penyakit aneh. Kisah cinta segitiga pun berawal disini.

Bagian Keempat : Kembalinya Tanah Leluhur

Pada bagian ini dipaparkan kisah kebangkitan kembali kerajaan Padangguni di tengah belantara Watukoro. Kebangkitan ini ditandai dengan berhasilnya Ramandalangi dan Wekoila membangun kembali kekuatan pasukan Padangguni melalui proses mobilisasi rakyat Padangguni di lereng-lereng bukit dan lembah, serta melalui penggalangan bala bantuan pasukan dari kerajaan Luwu, Bone, Mekongga, Wolio dan Wuna.  Berbekal 1000-an lebih pasukan, Ramandalangi dan Wekoila berhasil menggelar serangan balasan pada garis pertahanan kerajaan Besulutu dan Wawolesea hingga akhirnya kedua kerajaan ini berhasil ditaklukkan dalam tempo tiga hari tiga malam. Pada bagian ini, penulis secara vulgar menggambarkan fragmen-fragmen perkelahian berdarah antar para ksatria perang dari tiga kerajaan, yang pada akhirnya dimenangkan oleh Ramandalangi dan Wekoila berkat kesaktian senjata pusaka siwole uwa dan Kalo.

Bagian Kelima : Bunga Di Atas Kuncup Cendana

Pada bagian ini digambarkan peristiwa berdirinya kembali tiang-tiang istana Padangguni pasca penaklukan kerajaan Besulutu dan Wawolesea yang dirangkaikan dengan prosesi acara mosehe, yakni pengampunan massal pertama yang diberikan oleh mokole Ramandalangi kepada seluruh rakyat Besulutu dan Wawolesea yang kalah perang.  Seiring dengan itu, pertalian cinta kasih antara Ramandalangi dan Wekoila  pun akhirnya melangkah ke atas pelaminan.

Sayang sekali, kursi pelaminan indah itu justru menjadi saksi atas peristiwa tragis yang tiba-tiba menghadang di depan ribuan mata rakyat Padangguni yang tengah merayakan pesta kemenangan : mokole Ramandalangi tiba-tiba dibunuh oleh putri Anamia Ndopo, kekasih pertama sang mokole, yang menyamar sebagai penari lariangi saat prosesi adat perkawinan sedang berlangsung. Putri Anamia yang datang menagih janji cinta pada Ramandalangi itu pun tewas di tangan Wekoila. Saat hendak menghembuskan nafas terakhir, mokole Ramandalangi sempat menyematkan mahkota kerajaan Padangguni di atas kepala Wekoila sembari menyampaikan wasiat terakhir agar nama kerajaan Padangguni dirubah menjadi kerajaan Konawe dan ibukotanya dipindahkan ke gunung Olo-Oloho. Wasiat itu didasarkan atas permintaan para pemuka bekas kerajaan Besulutu dan Wawolesea yang pernah disampaikan kepada Ramandalangi sebagai syarat terakhir penyatuan tanah Tolaki.

Setelah resmi dikukuhkan sebagai mokole more (raja wanita) bergelar Anaway Inuanggino Sangia, Wekoila melaksanakan seluruh wasiat mendiang suaminya dengan mendirikan kerajaan Konawe di atas bekas wilayah kerajaan Padangguni, Besulutu dan Wawolesea, serta meletakkan istana Laika Mbu’u di atas gunung olo-oloho sebagai ibukota pertama kerajaan Konawe. Sedangkan bekas wilayah kerajaan Padangguni sendiri dijadikan oleh Wekoila sebagai daerah istimewa bergelar wutambinotiso yang dipimpin oleh seorang mokole kecil bernama Bunduwula yang tunduk dibawah kekuasaanya sebagai penguasa tunggal di tanah Tolaki.

Bagian Keenam : Senja Di Waktu Pagi

Pada bagian ini diketengahkan kisah seputar sepak terjang mokole Wekoila dalam memimpin kerajaan Konawe yang semakin hari semakin redup dan melemah karena terus tersandung rindu pada mendiang suaminya, mokole Ramandalangi. Tak bersama Ramandalangi dalam memimpin sebuah kerajaan yang baru seumur jagung, Wekoila luput memenuhi sumpahnya untuk memperluas wilayah kekuasaan Konawe. Seiring dengan kecantikannya yang semakin memudar, ia pun tak lagi banyak memperhatikan situasi di sekeliling kerajaan, hingga sebuah peristiwa tragis tiba-tiba terjadi. Sebuah wabah penyakit mematikan serta kedatangan biawak raksasa dan kerbau berkepala dua, tiba-tiba menyerang seluruh rakyat Konawe hingga tewas satu per satu. Peritiwa itu terus berlangsung hingga, konon, akhirnya seluruh manusia di tanah Konawe wafat, termasuk Wekoila. Hanya putri tunggal Wekoila bernama ‘Elu’ yang bergelar kambuka sioropo korembutano itu yang sempat menyelamatkan diri berkat senjata Kalo dan Siwole Uwa pemberian ibunya menjelang detik-detik terjadinya peristiwa kematian massal itu.

Pada bagian ini juga diceritakan sekilas tentang kehadiran seorang dukun sakti bernama Latuanda yang memelihara putri Elu hingga beranjak dewasa. Sang putri pun akhirnya dinikahkan dengan seorang lelaki raksasa bernama Onggabo yang tiba-tiba muncul menyusuri sungai Konaweeha dari tepi Danau Matana. Al kisah, pernikahan Elu dan Onggabo itu lalu melahirkan tujuh generasi orang Tolaki berikutnya yang melanjutkan babad tanah Tolaki, sebagaimana yang dikenal dalam riwayat kerajaan Konawe generasi kedua dibawah kekuasaan raja-raja Sangia Mbina’uti, Sangia Inato, Sangia Ngginoburu, dan seterusnya hingga Lakidende pada abad-XVII.

Iklan